MAKASSAR — beritakitanews.id Kegiatan Komunikasi Sosial (Komsos) TNI dengan Keluarga Besar TNI Tahun Anggaran 2026 menjadi momentum memperkuat sinergi antara TNI dan berbagai komponen masyarakat dalam mewujudkan ketahanan nasional serta mendukung Indonesia yang maju dan berdaulat.

Kegiatan yang diselenggarakan Mabes TNI tersebut berlangsung pada Kamis (8/10/2026), pukul 08.00 WITA, di Ballroom Hotel Horison Ultima, Jalan Jenderal Sudirman, Kecamatan Ujung Pandang, Kota Makassar, Sulawesi Selatan.

Kegiatan dibuka Kepala Staf Teritorial (Kaster) TNI, Letnan Jenderal TNI Bambang Trisnohadi, serta dihadiri sejumlah pejabat TNI dan perwakilan organisasi kemasyarakatan, LSM, mitra TNI, akademisi, dan elemen masyarakat lainnya.

Mengusung tema “Sinergitas Komponen Masyarakat dalam Mewujudkan Asta Cita untuk Indonesia Maju dan Berdaulat,” kegiatan ini menghadirkan dua narasumber yang membahas persoalan strategis kebangsaan.

Narasumber dari Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Sulawesi Selatan membawakan materi “Bela Negara, dari Perjuangan Kemerdekaan Menuju Ketahanan Indonesia.” Sementara itu, akademisi Universitas Hasanuddin, Prof. H. Adi Suryadi Culla, M.A., menyampaikan materi “Tantangan Perwujudan Program Asta Cita: Quo Vadis?”

Yusri Yunus Garisbawahi Substansi Strategis

Salah seorang peserta, Yusri Yunus, S.H., M.H., Advokat/Penasihat Hukum Asosiasi Pengusaha Pers Indonesia (APPI) Sulawesi Selatan, menggarisbawahi sejumlah substansi penting dari kegiatan tersebut yang dinilainya relevan bagi penguatan ketahanan bangsa.

Yusri juga merupakan salah satu alumni Resimen Mahasiswa Indonesia Wolter Mongisidi Provinsi Sulawesi Selatan. Latar belakang tersebut menjadi bagian dari pengalamannya dalam memahami nilai kedisiplinan, kebangsaan, pengabdian, dan bela negara.

Catatan yang disampaikan dalam pemberitaan ini merupakan pandangan dan refleksi Yusri atas materi Komsos TNI, bukan pernyataan yang disampaikan langsung dalam forum diskusi.

Menurutnya, bela negara tidak hanya berkaitan dengan pertahanan militer, tetapi juga mencakup pengabdian masyarakat melalui penguatan ekonomi, pendidikan, penegakan hukum, penguasaan teknologi, serta pemeliharaan persatuan nasional.

Ia menilai tantangan bangsa saat ini semakin kompleks, mulai dari ancaman siber dan disinformasi, ketahanan energi dan pangan, hingga persoalan korupsi, penyalahgunaan narkoba, dan pemerataan kesejahteraan.

Karena itu, kemandirian pangan dan energi, reformasi birokrasi, penegakan hukum yang berkeadilan, serta penguatan integritas penyelenggara negara perlu menjadi perhatian bersama.

Pembangunan Desa dan UMKM Jadi Kunci Pemerataan

Yusri juga menyoroti pentingnya pembangunan berbasis desa, pemberdayaan masyarakat, serta penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sebagai langkah mendorong pemerataan ekonomi dan mengurangi kemiskinan.

Menurutnya, peningkatan keterampilan, perluasan akses permodalan, pemanfaatan teknologi digital, dan dukungan pemasaran dapat membantu UMKM berkembang sekaligus membuka lapangan kerja bagi masyarakat.

Potensi sumber daya alam, komoditas unggulan, adat, dan budaya lokal juga perlu dikembangkan secara berkelanjutan agar menjadi kekuatan ekonomi daerah tanpa menghilangkan identitas masyarakat setempat.

Dalam konteks ketahanan nasional, kesejahteraan rakyat merupakan unsur penting yang berjalan beriringan dengan pertahanan dan keamanan negara.

Pers Berperan Menjaga Kualitas Informasi Publik

Sebagai bagian dari lingkungan hukum dan organisasi pengusaha pers, Yusri turut menekankan pentingnya peran pers dalam menjaga kualitas informasi publik.

Pers memiliki fungsi pendidikan, kontrol sosial, dan penyampaian informasi kepada masyarakat. Oleh karena itu, profesionalisme jurnalistik, akurasi pemberitaan, serta kepatuhan terhadap Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik perlu terus dijaga.

Sinergi antara TNI, pemerintah, dan insan pers, menurutnya, perlu dibangun dengan tetap menghormati kebebasan pers dan independensi jurnalistik.

Sinergi TNI dan Masyarakat Perlu Berkelanjutan

Kegiatan Komsos TNI TA 2026 di Makassar diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat komunikasi dan kolaborasi antara TNI, pemerintah, organisasi kemasyarakatan, LSM, akademisi, pelaku usaha, insan pers, dan masyarakat.

Berbagai persoalan yang menjadi perhatian dalam kegiatan tersebut menunjukkan bahwa ketahanan nasional membutuhkan dukungan lintas sektor, mulai dari pertahanan, kemandirian ekonomi, pembangunan sumber daya manusia, hingga keadilan sosial.

Bagi Yusri Yunus, semangat bela negara perlu diwujudkan melalui tindakan nyata sesuai peran masing-masing, baik dalam menjaga persatuan, menaati hukum, memperkuat ekonomi rakyat, maupun menyampaikan informasi yang bertanggung jawab.

Sinergi TNI dan rakyat, didukung kemandirian ekonomi, penegakan hukum, serta masyarakat yang berdaya, menjadi modal penting untuk menjaga keutuhan NKRI dan mewujudkan Indonesia yang maju, adil, dan berdaulat.

 

Red