DPW APPI Sulsel Hadiri Komsos TNI TA 2026, Muh Ali Sakti: Ketika Media dan Kompenen Masyarakat Bersatu, Bukan Sekadar Foto Bersama, tetapi Menyatukan Kebersamaan dalam Menerima Dan Memberi Informasi.
MAKASSAR — beritakitanews id – Semangat kebersamaan dan persatuan lintas elemen bangsa mewarnai kegiatan Komunikasi Sosial (Komsos) TNI dengan Komponen Masyarakat Tahun Anggaran 2026 yang berlangsung di Ballroom Hotel Horison Ultima Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (8/10/2026).

Mengusung tema “Sinergitas Komponen Masyarakat dalam Mewujudkan Asta Cita untuk Indonesia Maju dan Berdaulat,” kegiatan ini menjadi ruang pertemuan bagi berbagai unsur bangsa untuk memperkuat komunikasi, mempererat hubungan sosial, serta membangun kesadaran bersama bahwa kemajuan Indonesia membutuhkan keterlibatan seluruh komponen masyarakat.

Kegiatan tersebut mempertemukan jajaran TNI, organisasi kemasyarakatan (ormas), lembaga swadaya masyarakat (LSM), tokoh masyarakat, tokoh pemuda, pelajar, mahasiswa, komunitas, hingga insan pers. Beragam latar belakang dan organisasi hadir dalam satu forum, membawa identitas masing-masing, tetapi dipertemukan oleh semangat kebangsaan yang sama.

hadirnya berbagai Unsur TNI AD dan TNI AL, Kodam XIV/Hasanuddin, Dan unsur organisasi kemasyarakatan, tampak kehadiran Laskar Merah Putih, Elang Timur, Semut Hitam, Pandawa, dan GRIB Jaya, bersama unsur LSM Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia (GMBI), tokoh adat, kalangan pemuda, mahasiswa, serta insan pers berada dalam satu ruang dialog yang terbuka serta berbagai elemen masyarakat lainnya. Kehadiran organisasi-organisasi tersebut memperlihatkan ruang kebersamaan yang mempertemukan beragam kelompok masyarakat dalam komunikasi dan dialog kebangsaan.

Di antara unsur pers yang hadir, tampak Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Asosiasi Pengusaha Pers Indonesia (DPW APPI) Sulawesi Selatan, Muh Ali Sakti, A.Md., C.LA-D, yang akrab disapa Bung Kanda Ali, bersama Sekretaris DPW APPI Sulsel, Kamaluddin.
Kehadiran keduanya menjadi bentuk dukungan terhadap penguatan komunikasi antara TNI dan masyarakat, sekaligus menegaskan bahwa pers memiliki peran strategis dalam menyampaikan informasi, membangun pemahaman publik, dan merawat kehidupan demokrasi melalui pemberitaan yang profesional.
Komsos Bukan Sekadar Seremonial, tetapi Ruang Membangun Kepercayaan.
Panggung kegiatan menampilkan identitas Komsos TNI dengan latar ikon kebanggaan Sulawesi Selatan, di antaranya Fort Rotterdam, kapal Pinisi, dan Tugu Mandala. Visual tersebut menghadirkan perpaduan antara semangat kebangsaan, nilai sejarah, dan kekayaan budaya daerah.
Namun, makna utama kegiatan ini tidak hanya terletak pada kemegahan acara ataupun banyaknya peserta yang hadir. Lebih dari itu, Komsos menjadi kesempatan untuk membangun hubungan yang dilandasi komunikasi, saling menghargai, dan pemahaman terhadap peran masing-masing.
Sebab, sinergitas yang kuat tidak lahir hanya dari pertemuan formal. Sinergitas tumbuh ketika setiap unsur bersedia mendengar, membuka ruang dialog, menghargai perbedaan, serta bekerja bersama untuk kepentingan masyarakat dan bangsa.
Guru Besar Unhas Ulas Tantangan Keamanan dan Arah Pembangunan Nasional, Salah satu agenda utama kegiatan diisi dengan pemaparan materi oleh Guru Besar Politik Universitas Hasanuddin, Dr. H. Adi Suryadi Culla, M.A., yang juga dikenal sebagai akademisi di bidang ilmu politik dan hubungan internasional.
Dalam pembahasan tersebut, sejumlah isu strategis menjadi perhatian, mulai dari perubahan paradigma keamanan, Program Makan Bergizi Gratis (MBG), hingga implementasi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.
Persoalan keamanan menjadi salah satu pembahasan penting. Tantangan yang dihadapi bangsa saat ini tidak hanya berkaitan dengan ancaman militer konvensional, tetapi juga menyentuh dimensi keamanan manusia atau human security.
Aspek tersebut mencakup keamanan ekonomi, ketersediaan pangan, kesehatan, lingkungan, kehidupan sosial, keamanan individu, hingga stabilitas politik. Pemahaman ini menunjukkan bahwa ketahanan bangsa membutuhkan pendekatan yang menyeluruh, dengan memperhatikan kondisi dan kebutuhan masyarakat.
Program Makan Bergizi Gratis juga menjadi bagian dari pembahasan pembangunan sumber daya manusia. Program tersebut diarahkan untuk mendukung pemenuhan gizi, membantu mencegah masalah malnutrisi dan stunting, serta menunjang tumbuh kembang dan proses belajar anak.
Di sisi lain, pelaksanaannya juga memiliki potensi mendorong pergerakan ekonomi lokal melalui keterlibatan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), petani, nelayan, serta berbagai unsur pendukung lainnya.
Sementara itu, Asta Cita menjadi kerangka arah pembangunan nasional yang membutuhkan dukungan dan partisipasi berbagai komponen bangsa. Dalam konteks tersebut, komunikasi antara TNI dan masyarakat menjadi salah satu ruang untuk memperkuat kesadaran kebangsaan serta membangun kerja sama sesuai tugas dan tanggung jawab masing-masing.
Diskusi berlangsung interaktif dengan dipandu moderator Mayor Inf. Jenneddi Ecosaputra, S.T., M.I.P. Sesi tanya jawab memberikan kesempatan kepada peserta untuk menyampaikan pertanyaan, pandangan, dan persoalan yang berkaitan dengan tantangan kebangsaan serta kehidupan masyarakat.
Forum semacam ini menjadi penting karena komunikasi yang sehat bukan hanya menyampaikan gagasan dari satu pihak kepada pihak lain, melainkan juga membuka kesempatan untuk mendengar aspirasi dan memahami kenyataan yang dihadapi masyarakat.
Pesan Kanda Ali: Pers Bukan Sekadar Hadir, tetapi Menyampaikan Kabar Berita Di tengah Masyarakat.
semangat kebersamaan tersebut, Ketua DPW APPI Sulawesi Selatan, Muh Ali Sakti, menyampaikan pandangan mengenai posisi strategis pers dalam membangun sinergitas dengan berbagai komponen bangsa.
Baginya, kehadiran insan pers dalam kegiatan kebangsaan tidak boleh berhenti pada dokumentasi, pertemuan, atau foto bersama. Pers memiliki tanggung jawab yang lebih besar, yakni menyampaikan informasi kepada masyarakat secara faktual, berimbang, terverifikasi, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Pernyataan tersebut menjadi pesan penting bagi insan pers agar terus memperkuat solidaritas tanpa mengabaikan independensi, profesionalisme, dan etika jurnalistik.
Menurutnya, kebersamaan antarmedia bukan berarti seluruh insan pers harus memiliki pandangan yang sama dalam setiap persoalan. Justru di tengah perbedaan itulah dibutuhkan sikap saling menghormati, keterbukaan, dan komitmen bersama untuk menjaga kepentingan publik.
“Media harus hadir memberikan kabar kepada masyarakat. Kebersamaan insan pers bukan hanya persoalan organisasi, melainkan tanggung jawab bersama untuk menghadirkan informasi yang benar, berimbang, dan bertanggung jawab,” tegasnya.
Ia menilai, sinergitas yang dibangun TNI bersama berbagai elemen masyarakat dapat menjadi inspirasi bagi dunia pers untuk memperkuat komunikasi, membangun solidaritas, dan meningkatkan kualitas pemberitaan.
Namun, sinergi tersebut tetap harus berjalan sesuai peran masing-masing. TNI menjalankan tugasnya sesuai ketentuan, masyarakat berpartisipasi dalam kehidupan kebangsaan, sedangkan pers menjalankan fungsi jurnalistik secara independen dengan tetap mengedepankan fakta dan kepentingan publik.
“Ketika TNI membangun komunikasi dengan masyarakat, pers juga memiliki tanggung jawab untuk menjembatani informasi kepada publik. Kita hadir untuk melihat, mendengar, memeriksa fakta, kemudian menyampaikan informasi yang bermanfaat bagi masyarakat,” tambahnya.
Bagi DPW APPI Sulsel, pers yang kuat bukan semata-mata diukur dari banyaknya media yang berkumpul, tetapi juga dari kualitas karya jurnalistik, integritas wartawan, tanggung jawab perusahaan pers, dan keberanian menyampaikan fakta secara profesional.
Sekretaris APPI Sulsel Dorong Komunikasi yang Sehat dan Berkelanjutan
Senada dengan Ketua DPW APPI Sulsel, Sekretaris DPW APPI Sulsel, Kamaluddin, menekankan pentingnya menjaga hubungan komunikasi yang baik antara pers, TNI, dan seluruh komponen masyarakat.
Menurutnya, ruang komunikasi yang terbuka dapat membantu setiap pihak memahami tugas dan tanggung jawab masing-masing, sekaligus mengurangi kesalahpahaman yang berpotensi mengganggu hubungan antarlembaga maupun kehidupan sosial.
“Kami dari DPW APPI Sulsel mendukung kegiatan seperti ini. Ruang komunikasi antara TNI, pers, dan masyarakat harus terus dibangun. Dengan komunikasi yang baik, kita bisa saling memahami peran masing-masing dan bersama-sama menjaga suasana yang kondusif,” ujar Kamaluddin.
Ia berharap, pertemuan lintas elemen tidak hanya menjadi agenda sesaat, tetapi dapat menjadi awal dari hubungan yang berkelanjutan melalui dialog, pertukaran informasi, dan kegiatan positif yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Komunikasi yang baik, lanjutnya, harus tetap disertai sikap saling menghormati serta penghargaan terhadap fungsi dan kewenangan setiap unsur.
Foto Bersama, Simbol Perbedaan yang Bertemu dalam Kebersamaan
Menjelang penutupan kegiatan, suasana keakraban terlihat ketika peserta dari berbagai unsur berkumpul untuk mengabadikan momen bersama. Jajaran TNI, Laskar Merah Putih, Semut Hitam, Pandawa, GRIB Jaya, LSM GMBI, tokoh masyarakat, mahasiswa, komunitas, dan insan pers berada dalam satu bingkai kebersamaan.
Momen tersebut menjadi simbol bahwa perbedaan latar belakang, pandangan, dan identitas organisasi tidak harus menjadi penghalang untuk membangun komunikasi serta kebersamaan.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pemberian cinderamata yang diwakili oleh Letkol Inf. Indra Kurnia, S.Sos., sebagai bagian dari rangkaian acara dan simbol apresiasi.
Bagi DPW APPI Sulsel, foto bersama itu memiliki makna lebih dari sekadar dokumentasi. Ada pesan tentang pentingnya membangun hubungan antarelemen bangsa, menjaga ruang dialog, dan menumbuhkan rasa saling percaya.
Meski demikian, kebersamaan yang sesungguhnya tidak berhenti ketika acara selesai atau kamera tidak lagi merekam. Nilai sinergitas harus diwujudkan melalui tindakan nyata, komunikasi yang konsisten, dan kesediaan setiap pihak menjalankan tanggung jawabnya dengan baik.
Dari Makassar untuk Indonesia: Bersatu Tanpa Kehilangan Peran
Kegiatan Komsos TNI dengan Komponen Masyarakat TA 2026 di Makassar menjadi momentum untuk kembali menegaskan bahwa membangun Indonesia maju dan berdaulat membutuhkan kerja bersama.
TNI membutuhkan dukungan dan partisipasi masyarakat sesuai ketentuan yang berlaku. Masyarakat membutuhkan ruang komunikasi yang sehat dengan berbagai institusi. Sementara itu, pers memiliki tanggung jawab untuk memastikan informasi mengenai berbagai kegiatan, kebijakan, dan persoalan publik tersampaikan secara benar dan berimbang.
Sinergitas bukan berarti menghilangkan perbedaan. Sinergitas justru mengajarkan bahwa setiap unsur dapat berjalan bersama tanpa kehilangan identitas, fungsi, maupun tanggung jawabnya.
Dari Ballroom Hotel Horison Ultima Makassar, pesan kebersamaan itu menjadi pengingat bahwa kekuatan bangsa tidak hanya bertumpu pada institusi, tetapi juga pada kepercayaan, kepedulian, dan partisipasi masyarakat.
Bagi Muh Ali Sakti dan jajaran DPW APPI Sulsel, momentum tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa insan pers harus terus menjaga marwah jurnalistik, memperkuat profesionalisme, dan menghadirkan informasi yang mencerahkan masyarakat.
Sebab, pers bukan hanya hadir untuk menyaksikan peristiwa. Pers bertugas merekam fakta, menguji informasi, menyuarakan kepentingan publik, dan menyampaikan kabar yang dapat dipertanggungjawabkan.
Ketika TNI dan masyarakat membangun sinergi, ketika perbedaan dirawat dalam dialog, dan ketika pers tetap teguh menyampaikan fakta, di situlah kebersamaan menemukan maknanya.
Dan ketika media berkumpul dan bersatu, yang lahir seharusnya bukan sekadar foto bersama, melainkan komitmen untuk terus mencari kebenaran dan menyampaikannya kepada masyarakat.
DPW APPI Sulsel: Bersinergi dalam Kebersamaan, Profesional dalam Pemberitaan, dan Teguh Mengawal Kepentingan Publik.
Red





