Selayar. Fajar Sulawesi– Perlahan tapi pasti, predikat keterisoliran, ketertinggalan, dan keterisolasian, tanggal dan gugur satu persatu dari penyebutan nama, Kabupaten Selayar, Sulawesi Selatan.
Kabupaten di semenanjung paling selatan Provinsi Sulawesi Selatan yang terpisah secara administratif dari wilayah daratan ibukota Provinsi Sulsel.

Tak hanya terpisah dari daratan Ibukota Provinsi Sulsel. Akan tetapi, daerah yang diapit oleh kurang lebih 150 gugusan pulau kosong dan berpenghuni tersebut juga nyaris terpisah dari peta Sulawesi Selatan.
Titik pertemuan arus gelombang laut yang mengelilingi wilayah geographys Kabupaten Selayar, kontan menjadi sekat dan ruang pemisah antara daratan kota Sulawesi Selatan dengan ibukota daerah, berjuluk Bumi Tanadoang tersebut. Beberapa puluh tahun silam, Kabupaten Selayar hanya bisa diakses dengan menumpangi armada kapal kayu dan perahu tanpa mesin serta lembaran kain yang berfungsi sebagai layar.
Kapal dan atau perahu digerakkan dengan bantuan kemudi untuk mengikuti arah angin serta arus gelombang laut.
Kapal dan perahu layar tanpa mesin plus menjadi satu satunya armada tumpangan bagi warga pulau dan masyarakat dari daratan Selayar yang akan berlayar melintasi lima wilayah kecamatan pulau serta desa desa pesisir di sekitarnya.
Namun kondisi tersebut berangsur angsur jauh lebih baik, sejalan dengan mulai diletakkannya kebijakan pembangunan sarana prasarana tambatan perahu dan dermaga yang memungkinkan untuk disandari oleh kapal bertonase besar sejenis kapal pelni, kapal perintis, dan roro.
Hingga tahun 2025, Kabupaten Selayar, setidaknya telah dilayari dan dilayani oleh enam unit armada kapal angkutan penumpang.
Dua diantaranya, armada tol laut, milik PT. Pelni yang dikenal pengguna jasa dengan sebutan, KM. Sabuk Nusantara 85 dan Sabuk Nusantara 27.
Selain armada kapal pelni, lintasan pelayaran Kabupaten Selayar turut dibelah dan dijelajahi oleh KM. Sultan Hasanuddin, KM. Maloli, KM. Samudera Pasific dan kapal ferry jenis roro, milik PT. Dharma Lautan Utama.
KM. Dharma Kartika merupakan armada kapal ferry kedua, milik PT. Dharma Lautan Utama yang pernah membelah perairan laut Kabupaten Selayar.
Sebelumnya, KM. Dharma Manggala, sempat berlayar melintasi route Pelabuhan Pamatata-Bira.
Akan tetapi, pelayaran KM. Dharma Manggala, harus terhenti di tengah jalan. Setelah cuaca buruk, menghantam dan menyebabkan kapal naas tersebut, karam di pintu kolam, Pelabuhan Bira, Kabupaten Bulukumba.
Sejak masuk dan berlayarnya kelima unit armada angkutan penumpang di lintasan Dermaga Rauf Rahman, Benteng, aksesibilitas penyeberangan route Makassar Selayar, kian mudah dan lancar.

Arus pelayaran dari dan menuju wilayah kecamatan pulaupun, nyaris tak lagi terkendala dan jauh lebih safety.
Daun telinga, nyaris tak lagi pernah mendengar keluhan pengguna jasa yang merasa kecewa karena terlantar dan atau kemalaman di area terminal pelabuhan, karena jadwal pelayaran kapal yang menerapkan sistem tiba berangkat.

Bersamaan dengan kondisi itu, Kabupaten Selayarpun, secara perlahan mulai melambaikan tangan sembari mengucapkan kata selamat tinggal keterisoliran dan keterisolasian. (Fadly Syarif)





